Penyerangan Satpol PP ke gedung Kantor Pusat Persekutuan Gereja Indonesia (PGI)

Agustus 27, 2008 by fcbhindonesia

Ternyata pihak Pemda DKI Jakarta telah berani melakukan penyerangan terhadap lembaga kekristenan yang menjadi wadah terhadap berbagai gereja-gereja di Indonesia. Hal ini dilakukan oleh satuan pengamanan Pemda DKI Jakarta yang bernama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

 

Dengan alasan hendak menurunkan spanduk yang dinaikkan oleh pihak GMKI (gedung sekretariat-nya berdekatan dgn gedung PGI), pihak Satpol PP merasa berhak memecahkan kaca-kaca jendela dari kantor pusat PGI, menyerbu masuk ke dalam dan bahkan merubuhkan (merusak) beberapa motor yang sedang parkir di areal parkir PGI.

 

Saya yang dulu pernah kuliah di kampus UKI merasa bahwa perlakuan pihak Satpol PP tersebut hanyalah kedok untuk mengusir PGI dari area tersebut. Kenapa? Ini ada kaitannya dengan pihak Universitas Persada Indonesia (YAI) yang selama ini mengklaim bahwa mereka telah membeli seluruh tanah PGI, kampus UKI serta sekolah PSKD, sudah kehabisan akal untuk merebut lahan tersebut. Dulu pihak UPI YAI juga telah berkali-kali mensetting keributan antar mahasiswa (YAI & UKI) dengan tujuan agar memancing masyarakat sekitar melakukan protes atas keberadaan UKI dan melakukan pengusiran.

 

Dan Sekarang?

Pihak Satpol PP-lah yang ditunggangi oleh pihak Universitas Persada Indonesia (YAI).

 

Dari siaran TV One yang sempat menayangkan kejadian pelemparan batu oleh Satpol PP ke gedung PGI, terlihat bahwa pihak Polisi yang berada di TKP tidak melakukan tindakan apapun. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa kejadian tersebut telah disetting (diatur) dengan sengaja oleh “pihak-pihak tertentu” yang menginginkan PGI angkat kaki dari area tersebut.

WASPADALAH TERHADAP PSIKOPAT DI DUNIA KERJA!

Agustus 15, 2008 by fcbhindonesia

“Penelitian menyatakan bahwa 5%  populasi orang dewasa yang bekerja adalah psikopat di tempat kerjanya.”

Psikopat seperti itu ada di kantor besar maupun kecil, dari ruang kerja office boy, staff sampai ada di ruang rapat dewan maupun di lantai-lantai toko.

Di sanalah (menurut Clarke) mereka bersembunyi; lewat berbohong, mencurangi, mencuri, memanipulasi lewat ketrampilan sosial mereka yang tinggi, mengorbankan dan menghancurkan para rekan kerja, serta kesemuanya tanpa rasa salah maupun penyesalan.

Lebih buruk lagi, ia menilai, mereka yang disebut organisasional psikopat, berkembang pesat di dunia bisnis, di mana kezaliman dan nafsu mereka tidak saja mereka salah-artikan sebagai ambisi dan keterampilan memimpin, namun juga sebagai sesuatu yang dihargai melalui promosi, bonus dan kenaikan upah.

“Ambil contoh iklan lowongan kerja. Iklan itu, misalnya, menyebut `anda tahu anda adalah yang terbaik, berbeda dan unik, anda mampu mempengaruhi orang, suka bergaul`. Ini jenis pernyataan yang menarik bagi banyak orang, teristimewa lagi untuk psikopat,” katanya.

Dalam wawancara rekrutmen, psikopat tampil mempersona dan tahu kapan harus tersenyum manis untuk memenangkan hati pewawancara sebagai orang yang cocok untuk lowongan itu.

“Mereka adalah pembicara yang sangat bagus dan kadang mengarang riwayat hidupnya, sehingga pewawancara terperdaya. Mereka terlihat mempersona, cerdas dan piawai, tapi jika anda sedikit saja gali lebih dalam, anda akan tahu seperti apa mereka sebenarnya,” kata Clarke.

Psikopat tempat kerja akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kekuasaan, status dan upah yang mereka inginkan.

“Mereka berpikir layaknya psikopat kriminal. Mereka berusaha sekeras-kerasnya demi mereka sendiri. Perbedaan keduanya adalah, psikopat kriminal menghancurkan korban secara fisik, sedangkan psikopat tempat kerja menghancurkan korbannya secara psikologis,” ujarnya.

Menurut Clarke, psikopat tempat kerja dapat diketahui dari pola perilaku dan ciri kepribadian di bawah ini:

  • Tanpa dosa.
    Psikopat tempat kerja tidak menyesali berapapun yang mereka jadikan korban, mereka “tusuk dari belakang” atau yang hasil kerjanya mereka curi.
  • Mempesona.
    Mereka adalah pembicara yang sangat bagus. Mereka lebih suka berhadapan empat mata, meskipun tidak takut rapat kelompok.
  • Manipulatif.
    Mereka memangsa berbagai kelemahan orang. Mereka sangat pandai beradaptasi dengan orang lain, tahu bilamana harus tampil percaya diri atau kurang percaya diri, kapan harus kelihatan bodoh, kapan harus tersenyum.
  • Parasitis.
    Mereka mencari penghargaan dari hasil kerja orang lain.
  • Pembohong yang patologis.
    Psikopat tempat kerja bukan pembohong ulung. Namun, jika mereka ketahuan, mereka dapat berdalih untuk menemukan selamat. Queen of Drama : itulah mereka.
  • Tak menentu.
    Psikopat hanya punya emosi pokok (senang, sedih, marah). Mereka pada umumnya pandai menyembunyikan emosi mereka, dapat tersenyum bila sedih ataupun pura-pura menangis.

Psikopat tempat kerja mencari pertemanan dengan orang yang punya kedudukan lebih tinggi agar dapat melindungi mereka. Mereka tidak segan-segan menukar tubuh mereka agar mereka mendapat apa yang mereka inginkan. Mereka akan merongrong sekaligus berteman dengan bos dan berusaha meniti kedudukan di perusahaan. Clarke mengatakan, ada dua senjata yang biasa mereka pakai yaitu: pendidikan dan kerjasama tim/pertemanan.

Dalam situasi di mana majikan tidak bertindak, maka Clarke menyarankan, korban sebaiknya pindah kerja. Mengapa? Oleh karena korban tidak bisa mengubah seorang psikopat, dan proses rehabilitasi hanya akan memperparah mereka. Mereka akan mengejar sampai kemanapun untuk menghukum orang-orang yang berani melaporkan mereka.

“Mereka tidak peduli. Mereka tidak berpikir dirinya adalah psikopat bahkan beberapa dari mereka sangat religius dan bersembunyi dibalik agama dan simbol agamanya. Mereka tidak berpikir apa yang sedang dilakukan adalah salah. Mereka hanya berpikir dirinya pintar, selalu ingin membuktikan dirinya pintar, cantik, tampan, bertingkah laku baik dan jika semua orang secerdas mereka, semuanya pun akan melakukan hal serupa,” katanya.

Akhirnya, Clarke pun berpesan: “Mereka akan menggunakan keterampilan sosial mereka, kemampuan mereka menilai orang untuk makin memanipulasi orang demi keuntungan mereka”

Dikutip dari : http://detektifromantika.wordpress.com/psikopat-ditempat-kerja/

PELAYANAN vs “pelayanan”

Agustus 8, 2008 by fcbhindonesia

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita mendengar kata : Pelayanan. Atau juga pernah kita mendengar seorang teman yang berkata: “Kamu ngga ikut pelayanan di gereja?” Atau mungkin berkata, ” Aku mau pergi pelayanan nih.” dsb
Apakah makna dari pelayanan yang mereka maksud? Apakah menjadi seorang pelayan yang benar-benar melayani tuan/majikan (yaitu Kristus dan tubuh-Nya) atau cuma pekerjaan yang berkedok “pelayanan”?

Zaman sekarang ini begitu banyak orang yang dengan mudahnya mengeluarkan kalimat : “Saya adalah pelayan Tuhan.” Kemana-mana mereka mengaku-ngaku kalau mereka adalah pelayan Tuhan. Di gereja, mereka memperkenalkan diri sebagai pelayan Tuhan. Di tengah-tengah lingkungannya, mereka juga selalu menggembar-gemborkan pelayanannya. Bahkan di saat ada waktu untuk berbicara, maka mereka akan berkoar-koar kalau mereka adalah pelayan Tuhan. Tujuannya tak lain agar orang-orang tahu kalau mereka “melayani Tuhan” sehingga orang-orang menjadi simpati (bahkan) memberikan “salam tempel” yang jumlahnya lumayan besar :(

Tapi apakah mereka pernah mengalami 1% saja dari apa yang pernah dialami oleh para sahabat (murid) YESUS KRISTUS sewaktu mereka menjalanankan misi pelayanan mereka?
Saat ini begitu banyak media massa yang digunakan sebagai sarana untuk melayani tubuh-tubuh Kristus. Tapi di balik itu, media massa juga dipergunakan sebagai “corong” untuk MENYOMBONGKAN DIRI dan mengeruk harta demi kepentingan pribadi.

Coba kita telaah pekerjaan dari sahabat / murid KRISTUS ketika memulai pelayanannya. Apakah mereka selalu berdoa dan memohon kepada Tuhan agar diberi cuaca yang tenang & adem ayem saja? (tidak panas terik maupun hujan badai). Apakah mereka selalu memohon pada Tuhan agar mereka diberi kuda atau keledai terbaik sebagai sarana transportasi mereka? (utk zaman sekarang dikategorikan motor, mobil, pesawat dsb). Apakah mereka meminta pada Tuhan agar pundi-pundi mereka selalu diisi penuh oleh Tuhan? (zaman sekarang dikategorikan sebagai : keuangan yang selalu berkelimpahan). Atau apakah mereka selalu meminta imbalan pada orang-orang yang telah mereka layani? (misalnya minta uang atau makanan?). Dan apakah mereka hanya pergi melayani keluarga orang kaya, seperti misalnya keluarga para raja dan para bangsawan?

Jawabannya : TIDAK!

Tapi lihat apa yang terjadi akhir-akhir ini? Banyak dari generasi “nabi-nabi palsu” yang bergentayangan di muka bumi ini yang berteriak-teriak :” Kami pelayan Tuhan.” “Kami mampu menyembuhkan yang sakit dan membangkitakan yang letih.” Ditambah lagi semakin banyaknya manusia yang “membisniskan” TUHAN YESUS! Ada yang memanfaatkan kemampuannya dalam berpidato (berkhotbah) untuk mendapatkan uang dan ada pula yang menjual suaranya dengan dalih “kesaksian pujian” bagi kemuliaan ALLLAH di surga. Ada yang tega memorotin orang tua-nya dengan alasan “pelayanan di gereja”.

Apakah generasi seperti mereka itu pernah melayani orang-orang (jiwa-jiwa) seperti foto-foto yang ada di bawah ini?

Kelompok doa Lansia di pelosok desa

Kelompok doa Lansia di pelosok desa

 

Keluarga yang 2 anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa?

Keluarga yang 2 anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa?

 

Kelompok doa para petani dan buruh pabrik

Kelompok doa para petani dan buruh pabrik

 

Keluarga dgn agama (ortunya) berbeda.

Keluarga dgn agama (ortunya) berbeda.

 

Kelompok doa kaum tuna netra

Kelompok doa kaum tuna netra

Lihatlah generasi muda sekarang. Hampir semuanya ingin serba instan. Kalau gereja tidak menyetujui proporsal rencana “pelayanan” mereka, maka mereka akan ngambek dan langsung menghilang dari gereja. Atau keluarga muda yang begitu mudahnya mencaci maki para Hamba Tuhan (mis: Pendeta, Penatua, diaken dsb). Atau bahkan jemaat yang bahkan bersikap jahat (melebihi YUDAS ISKARIOT) kepada jemaat lain dan kepada gembala gerejanya. 

Sungguh……, benar-benar sungguh saat ini adalah saatnya zaman akhir. Mari kita melayani demi kemuliaan nama Tuhan saja. Bukan melayani agar (menjadi pengkhotbah atau penyanyi) terkenal. Mari kita melayani demi kebesaran kerajaanNya di seluruh bumi ini, bukan melayani demi memperkaya diri sendiri. Buat apa memberikan kesaksian pujian (singer, vokal group dan/atau koor) di setiap kebaktian kalau masih saja merokok, main judi, terikat roh free seks, narkobaisme, pemabuk, korupsi/mencuri, menipu, melakukan fitnah dan/atau adu domba dsb? Buat apa berbicara kepada orang-orang bahwa dirinya telah “lahir baru” sedangkan kelakuannya justru lebih mengerikan bila dibandingkan dengan para ahli taurat / kaum farisi yang menginginkan kematian YESUS KRISTUS?

KISAH PENGANIAYAAN FISIK & MENTAL

Agustus 2, 2008 by fcbhindonesia

Kisah nyata ini ditulis langsung oleh Bapak Tasmin kepada Irianto, ketua tim FCBH – Indonesia. Di mana data-data maupun kronologis dari kisah yang diceritakan atau diutarakan oleh beliau tsb, telah dicheck dan recheck oleh saya sendiri ke beberapa nara sumber di dusun Cibunut dan blog Tagog – Kuningan ; Jawa Barat.

Kisah perampasan kalung salib dari seorang murid dan pemukulan terhadapnya oleh guru SMAN 1 Ciniru – Jawa Barat.
(terjadi kurang lebih 2 thn yg lalu)

Identitas dari siswa Kristen tersebut adalah sebagai berikut:
Nama : Yunus Yulius
Tgl Lahir : 23 Juli 1987
Pendidikan terakhir : Kelas III di SMU Negeri – CINIRU (belum tamat).
Nama orang tua : Bpk Tasmin Sutasmin
                            Ibu Mujinem
Jumlah saudara : 2 orang. Kedua-duanya adalah perempuan & sedang duduk di bangku SMA.
Pelaku pemukulan : Bpk Edi Supardi (eks guru SMAN Ciniru – JaBar).

Kronologis kejadian (100% seperti yang diutarakan bpk Tasmin kepada saya) 


Anakku pulang dari sekolah biasanya ceria dan seperti biasanya suka minta doa mau berangkat lagi ke sekolah untuk melatih pramuka. Tetapi apa yang terjadi, anak saya seribu membisu, mukanya merah padam. Oleh orang tua ditanya,  “Kenapa ‘nak? Ada masalah apa di sekolah?”
“Pak, kalung salibku hilang dirampas pak guru dan saya ditampar, sakit sekali.” (kira-kira demikian jawab si Yunus kepada bapaknya). Kemudian dia (Yunus) selama tiga hari diam di kamar berdoa.
Seperti biasanya, orang tua mempunyai tanggung jawab terhadap anaknya, (mulai) menelusuri kejadian yang sebenarnya.

Awalnya, orang tua datang (mendatangi) ke rumahnya (bpk Edi Supardi). Lalu (ternyata) dia (bpk Edi Supardi) datang ke rumah lalu ditanya (oleh bpk Tasmin), “Kenapa Yunus ditampar?” Karena melawan, jawabnya (bpk Edi Supradi).  Yah melawan bagaimana kata orang tua. Kata gurunya, (saat itu) Yunus ke kantor mengantarkan ulangan ke kantor pakai (memakai) kalung salib kemudian saya (bpk Edi Supardi) tarik kalung salibnya dari kerah bajunya, lalu Yunus berusaha mempertahankan kalung salibnya, (yang) akhirnya Yunus ditampar oleh gurunya.
Kemudian orang tua (Yunus) memberi saran kepada guru tersebut (lebih tepatnya pertanyaan): Apa mengganggunya, kalung salib itu kan citra keagamaan (keyakinan) dan jangan dilakukan (pemukulan/perampasan) di ruangan guru; anak akan korban perasaan. Kalau bisa (seharusnya) dibawa ke ruangan khusus (di BP). Karena kalau anak di sekolah itu anak kita. Lalu secara diam-diam orang tua berusaha mengobatinya. Setelah beberapa minggu kepala sekolah  dating ke rumah (mengatakan) supaya anak istirahat dulu dan memberi undangan untuk (kepada orang tua) untuk dating ke sekolah.

Hari senin, orang tua memenuhi undangan, datang ke sekolah. tetapi yang terjadi? Di sekolah sedang upacara bendera. Ditanyakan (apakah) kepala sekolah datang atau tidak, ternyata tidak ada. Pas bubar upacara, orang tua mau pulang ternyata guru tersebut (bpk Edi Supardi) menghapiri. Katanya: “Kenapa kamu memaluin (mempermalukan) saya.” Berkata demikian pada orang tua. Ternyata jawaban orang tua tidak didengar, orang tua berusaha ingin menyelesaikan pembicaraan tadi dengan ikut ke kantor tetapi apa yang terjadi? Saya (bpk Tasmin) dipukul dan terjadilah baku hantam sehingga nantang urusan (diperpanjang). Ternyata semua urusan (proses hokum) gagal atau kalah. Hukum tinggalah hokum. Proses hokum berjalan dengan sia-sia saja. Proses hukum berjalan tidak mulus sesuai apa yang diharapkan.
(Kemudian) Orang tua berusaha lewat majalah korang (maksudnya : koran) mengirim judul (tulisan) Anakku Sayang Anakku Malang, maksudnya untuk menyentuh hati nurani pembaca supaya merasa terpanggil (untuk mendukung atau membela). Tetapi apa yang diharapkan hampa belaka. Akhirnya hanya kepada Tuhan yang menolong segala perkara: Tuhan Yesus, hanya kepadaMu aku serahkan anakku. Semogga Engkau menyembuhkan (memulihkan). Dengan iman (ku) sebiji sesawi, Engkau akan mengabulkan doa, Amin!
(Semoga Yesus tetap di hari kita)

Demikianlah curahan hati bapak Tasmin kepada saya. Memang bila ditilik dari penulisan, banyak sekali kosa kata dan penggunaan tanda-tanda baca yang amburadul. Tetapi hal tersebut dapat dimaklumi. (Ayah) Orang tua mana yang tidak akan stress berat apabila istri dan anak lelaki satu-satunya mengalami ketergangguan jiwa? Ditambah lagi penghasilan sebagai guru SD yang kecil dan harus menanggung biaya sekolah 2 anak gadisnya yang tengah duduk di bangku SMA?
Mari, sisihkan waktu sedikit untuk mendoakan YUNUS dan keluarganya. Biarlah mujizat TUHAN berlaku di tengah-tengah mereka, karena tiada yang mustahil bagiNYA, AMIN.

 
Berikut ini 2 buah foto dari Bapak Tasmin dan anak-anaknya.

 

Pak Tasmin dan Yunus

Pak Tasmin dan Yunus

Pak Tasmin dgn anak-anaknya

Pak Tasmin dgn anak-anaknya

 

Eli, ibunya dan neneknya saat kebaktian

Eli, ibunya dan neneknya saat kebaktian

 

 

 

 

 

Menjangkau jiwa-jiwa yang tak tersentuh

Juli 9, 2008 by fcbhindonesia

Dengan program audio bibles yang diprakarsai oleh Lembaga Rohani Faith Comes By Hearing – USA, sekarang banyak dari jiwa-jiwa di pelosok Indonesia, yang selama ini mungkin tidak pernah memiliki Alkitab atau bahkan belum mempunyai gereja (krn tidak diijinkan oleh orang-orang islam), menjadi terberkati dengan program audio bible / proclaimers dari Faith Comes By Hearing tersebut.
Seperti misalnya jiwa-jiwa yang kami foto di bawah ini:

Pelosok Kuningan – Jawa Barat.

Blind Community

Blind Community

Kumpulan Sunda Asli - Lahir Baru

Kumpulan Sunda Asli - Lahir Baru

Apakah jiwa anda pernah terpikir untuk melayani orang-orang seperti mereka? Apakah anda sudah merasa cukup puas dengan melayani di kota-kota besar? Apakah menurut anda bahwa jiwa-jiwa seperti mereka tidak pantas mendapat layanan Kasih Sejahtera dari Tuhan Yesus?

Semoga yang membaca blog ini dapat terpanggil untuk sekedar mendoakan pelayanan FCBH di manapun kami berada. Kami tidak meminta uang atau barang-barang apapun. Cukup doakan pelayanan kami agar kami selalu dilindungi oleh YESUS, Allah Yang Maha Perkasa.